HAIJOGJA.COM – Petani di Gunungkidul diminta untuk tidak terburu-buru memulai masa tanam meskipun hujan telah mulai turun di beberapa wilayah. Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas ringan saat ini belum menandakan datangnya musim hujan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menjelaskan bahwa hujan yang mulai mengguyur dapat dimanfaatkan oleh petani untuk mempersiapkan lahan. Namun, penting bagi petani untuk mempertimbangkan keberlanjutan curah hujan sebelum memulai penanaman agar tanaman tidak berisiko gagal tumbuh akibat kekurangan air. “Berdasarkan perkiraan, Oktober sudah mulai ada hujan, tapi relatif ringan. Kemudian berlanjut di November dan Desember hingga wilayah Gunungkidul masuk musim hujan dengan intensitas semakin tinggi,” ungkap Rismiyadi pada Kamis (29/10/2026).

Dia menambahkan bahwa petani sebaiknya memanfaatkan hujan awal untuk mengolah lahan dan meningkatkan kesiapan sebelum masa tanam. Penentuan waktu tanam harus memperhatikan kondisi cuaca agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu ketika hujan kembali berhenti. “Sekarang belum masuk musim hujan. Kalau menanam sekarang, takutnya hujan berhenti turun sehingga menyebabkan tanaman berpotensi gagal tumbuh karena tidak ada air,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menyatakan bahwa hujan yang mengguyur wilayah tersebut pada Sabtu (24/10/2026) belum menjadi tanda bahwa musim hujan telah tiba. Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan di Gunungkidul diperkirakan akan dimulai pada awal hingga pertengahan Desember 2026. “Hujan yang turun sebagai penanda peralihan dari musim kemarau ke penghujan,” katanya.

Purwono juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap masa peralihan musim atau pancaroba, di mana cuaca ekstrem seperti angin kencang dapat terjadi dalam waktu singkat dan berpotensi menimbulkan kerusakan. Salah satu dampak cuaca ekstrem telah dilaporkan saat hujan perdana pada Sabtu (24/10/2026), di mana sebuah kandang kambing di Kapanewon Tanjungsari mengalami kerusakan akibat angin kencang.

Meski kandang tersebut rusak, Purwono memastikan bahwa kambing yang berada di dalamnya berhasil diselamatkan. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan dan langkah antisipasi dari warga untuk mengurangi risiko kerugian. “Fenomena angin kencang akan semakin sering. Makanya harus terus diwaspadai dan diantisipasi agar dampaknya bisa ditekan sekecil mungkin,” tutupnya.