RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
HAIJOGJA.COM – Yogyakarta memiliki sosok yang berperan penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia, yaitu RM Soeharjo Djajengasmoro. Ia tidak hanya dikenal sebagai seniman, tetapi juga sebagai pengajar, tokoh pergerakan pemuda, dan organisator yang aktif dalam menggunakan seni sebagai alat perjuangan.
Sayangnya, kontribusi Djajengasmoro kini mulai terlupakan dalam sejarah seni rupa yang ia bantu bangun. Meskipun memiliki peran krusial dalam pendidikan seni rupa di Yogyakarta, namanya tidak banyak dikenal.
“Dia terlibat dalam pendirian lembaga seni, menginisiasi ruang belajar, hingga menggerakkan produksi poster perjuangan pada masa awal kemerdekaan,” jelas Tomi Firdaus, kurator pameran “Fragmen Memori Djajengasmoro: Yang Tersisa, Yang Rumpang” di Pojok Rumah DAS, Yogyakarta, pada Rabu (28/10/2026).
Menurut Tomi, kurangnya perhatian terhadap kontribusi Djajengasmoro disebabkan oleh minimnya pengakuan terhadap perannya dalam pergerakan pemuda dan seni. “Bagaimana seorang tokoh yang ikut membangun ekosistem seni rupa Indonesia dan pergerakan sejak 1928 justru tidak banyak dikenal, bahkan oleh kalangan pendidikan seni,” tambahnya.
Djajengasmoro memiliki rekam jejak yang panjang dalam perkembangan kebudayaan dan pendidikan seni. Ia pernah terlibat dalam Kongres Kebudayaan I di Magelang dan berkontribusi dalam merancang Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang didirikan pada tahun 1950.
Ia juga aktif dalam mendirikan Persatuan Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) pada 20 Oktober 1945, yang menggunakan seni sebagai medium perjuangan di masa awal kemerdekaan. Djajengasmoro menjabat sebagai ketua organisasi tersebut dengan melibatkan sekitar 60 seniman.
“Mereka tidak hanya memproduksi karya, tetapi juga bekerja sama dengan warga untuk mendistribusikannya,” ungkap Tomi.
Poster dan spanduk besar menjadi bagian dari strategi untuk menyebarkan pesan perjuangan, bahkan dipasang di kereta untuk menjangkau masyarakat di tengah situasi negara yang baru berdiri. Djajengasmoro bekerja sama dengan seniman lain untuk merancang berbagai tema, termasuk pembangunan.
Kontribusi Djajengasmoro tidak hanya terbatas pada organisasi dan pendidikan. Ia juga terlibat dalam proyek seni yang berkaitan dengan tokoh-tokoh penting, seperti permintaan dari Bung Hatta untuk membuat mimbar keagamaan dan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk membuat air mancur di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
“Sayangnya, jejak karya seni air mancur itu saat ini hilang,” kata Tomi.
Djajengasmoro juga diminta untuk membuat monumen PSSI untuk memperingati 25 tahun berdirinya organisasi sepak bola tersebut, yang permintaannya datang dari Presiden Soekarno melalui Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Meskipun banyak kontribusinya, namanya tidak sepopuler RJ Katamsi, Indra Gunawan, dan Affandi dalam sejarah seni rupa Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya bagian sejarah yang belum banyak dibahas, di mana sosok yang berperan dalam pengembangan pendidikan seni sering kali terabaikan.
Tomi menambahkan bahwa Djajengasmoro pernah mengundurkan diri dari ASRI karena tidak memiliki ijazah, yang menjadi salah satu isu yang diangkat dalam pameran ini terkait legalitas dan pengakuan institusional dalam dunia pendidikan.
Meskipun demikian, jejak Djajengasmoro tidak sepenuhnya hilang. Pada tahun 1985, Pemerintah Daerah DIY memberikan Anugerah Kebudayaan kepadanya atas kontribusinya sebagai pengajar seni. Namun, penghargaan tersebut belum cukup untuk membuat namanya dikenal luas.
Pameran ini bertujuan untuk mengangkat kembali peran Djajengasmoro dalam sejarah seni, dengan melibatkan seniman muda yang mencoba melengkapi bagian-bagian kosong dalam sejarah pendidikan seni di Indonesia, khususnya di Yogyakarta.
Seniman-seniman tersebut, seperti Andi Firda, Catur Nugroho, dan Riyan Kresnandi, diundang untuk menafsirkan kembali jejak Djajengasmoro melalui karya-karya mereka. Karya-karya ini mencakup berbagai tema, mulai dari pendidikan, poster perjuangan, hingga monumen yang hilang.
“Ini bisa dikaitkan dengan isu ijazah yang mengemuka saat ini,” ujar Tomi, mengacu pada karya Sekawan Project yang merespons pengunduran diri Djajengasmoro dari ASRI.
Melalui pameran ini, diharapkan masyarakat dapat lebih mengenal kontribusi Djajengasmoro dan mengingat kembali peran pentingnya dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Leave a Reply