HAIJOGJA.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melaporkan bahwa sebanyak 116 orang mengalami luka-luka akibat kericuhan yang terjadi di Malioboro pada malam hari, Rabu (28/10/2026). Pemkot berkomitmen untuk menanggung biaya pengobatan bagi para korban.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan pemilahan untuk menentukan siapa saja yang berhak mendapatkan bantuan. Bagi warga yang belum memiliki jaminan kesehatan, biaya pengobatan akan ditanggung oleh Pemkot.

“Jadi mana yang sudah tercover oleh sistem yang ada, biasanya ada juga yang tidak tercover oleh sistem yang ada, gitu. Kalau belum tercover dengan sistem yang ada kan kita harus bertanggung jawab, gitu,” ujar Hasto pada Kamis (29/10/2026).

Hasto menambahkan bahwa pemkot akan berusaha meng-cover semua korban, meskipun tidak semua dapat dijamin oleh sistem yang ada.

Dari total 116 korban, enam di antaranya memerlukan perawatan di Rumah Sakit Bethesda, yang terdiri dari lima anggota kepolisian dan satu warga sipil.

Salah satu korban, Abdullah Iskandar (25), menceritakan pengalamannya saat kericuhan terjadi. Ia awalnya ingin bertemu dengan temannya di Jalan Malioboro, namun saat kericuhan pecah, ia terlibat dalam situasi tersebut. “Awalnya baju saya ditarik. Tiba-tiba dari belakang tuh langsung dipukul. Enggak tahu itu benda pakai apa, enggak tahu. Sampai sini sobek (kepala bagian kanan),” kata Abdullah.

Setelah mengalami serangan tersebut, Abdullah dilarikan ke rumah sakit dan saat ini merasa lebih baik, meskipun masih merasakan pusing saat berdiri.

Kericuhan tersebut terjadi setelah unjuk rasa yang berlangsung damai di Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada hari yang sama, sebelum massa aksi melakukan long march ke Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta, dan bergabung dengan kelompok lainnya.