HAIJOGJA.COM – Gempa bumi mengguncang Yogyakarta pada malam hari Selasa, 27 Oktober 2026. Banyak warga yang merasakan getaran yang awalnya singkat, kemudian mereda, sebelum akhirnya kembali terasa lebih kuat.

Fenomena ini menarik perhatian warganet di media sosial. Salah satu pengguna, dengan akun @ts*jk, mengekspresikan kebingungannya, “Jogja gempa aneh banget, geter dikit, berenti, terus geter kenceng banget. Ku kira aku migren anjir.”

Dr. Wijayanto, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut. Ia menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang bisa menjelaskan mengapa masyarakat merasakan getaran yang beragam.

“Getaran yang dirasakan sebentar, kemudian mereda dan kembali lebih kuat, dapat dijelaskan dengan beberapa kemungkinan,” ujar Wijayanto pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Salah satu faktor yang berpengaruh adalah perbedaan waktu kedatangan gelombang gempa. Selain itu, terdapat dua kejadian gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan, yaitu gempa pertama dengan magnitudo 5,0 pada pukul 21:43:10 WIB dan gempa kedua dengan magnitudo 5,2 pada pukul 21:44:05 WIB, hanya berselang 55 detik. Ini menjelaskan mengapa masyarakat merasakan dua kali getaran, di mana getaran kedua terasa lebih kuat.

Wijayanto juga menjelaskan bahwa gelombang gempa terdiri dari beberapa jenis yang tiba di lokasi yang sama pada waktu yang berbeda, seperti gelombang primer (P) dan gelombang sekunder (S). Gelombang S biasanya memiliki amplitudo yang lebih besar dibandingkan gelombang P, sehingga getaran dapat terasa lebih kuat saat gelombang berikutnya tiba.

“Jika terjadi beberapa gempa dalam waktu berdekatan, warga mungkin merasakan perbedaan dalam getaran yang dialami,” tambahnya.

Di Yogyakarta, kondisi geologi yang didominasi oleh lapisan tanah lunak juga berperan dalam memperkuat guncangan. Wijayanto menjelaskan bahwa tanah lunak dapat menyebabkan amplifikasi atau perbesaran guncangan gempa serta resonansi gelombang.