HAIJOGJA.COM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Firdhailsa Cintora, seorang penjual dimsum dan cilok, berjuang untuk bertahan dan berbagi kisah inspiratifnya.

Pagi hari, tepatnya pukul 03.00 WIB, alarm handphone Samsung miliknya berbunyi nyaring. Dengan setengah terpejam, ia meraih ponselnya untuk mematikan suara tersebut. Perlahan, ia mengumpulkan energinya dan bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.

Setetes air yang menyentuh kulitnya menjadi sinyal untuk membangunkan dirinya dari rasa kantuk. Setelah membasuh muka, Firdhailsa memulai aktivitas pagi dengan melaksanakan shalat tahajud.

Usai beribadah, perempuan yang merupakan seorang ibu tunggal ini segera menuju dapur untuk menyiapkan dagangannya. Ia merapikan bihun, cilok, puding, dan makanan basah yang telah disiapkan dari malam sebelumnya untuk dititipkan di warung jajanan pasar di Salatiga.

Di sela-sela membungkus makanan, ia juga meluangkan waktu untuk shalat subuh bersama ayah dan adiknya. Pada pukul 04.15 WIB, suasana di rumahnya mulai hidup, ditandai dengan suara mesin cuci dan aroma masakan pagi.

Selain menyiapkan dagangan, Firdhailsa juga membangunkan anak semata wayangnya dan menyiapkan pakaian untuk mereka berdua. Meski hidup sebagai ibu tunggal, ia tidak mengenal kata lelah dalam menjalani semua tanggung jawab ini.

Perempuan yang lahir di Bali dan kini tinggal di Salatiga ini juga bekerja di sebuah sekolah TK setempat. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan memandikan anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun, ia mengantar anaknya ke sekolah sebelum berangkat ke tempat kerjanya.

Jarak antara sekolah anak dan tempat kerjanya cukup dekat, sehingga ia dapat mengatur waktu dengan baik. “Sejauh ini ya semuanya dinikmati sih. Kalau enggak seperti ini siapa yang menjamin kita bisa hidup nyaman,” ungkapnya saat ditemui pada Minggu, 18 Oktober 2026.

Firdhailsa menekankan bahwa tantangan sebagai ibu tunggal bukanlah beban, melainkan kesempatan untuk belajar dan berkembang. “Bukan soal sulitnya aktivitas sehari-hari, tapi bagaimana caranya kita ubah keseharian yang lelah itu untuk belajar dan berkembang, meski ngurus anak sendirian,” tuturnya.