HAIJOGJA.COM – Presiden RI Prabowo Subianto telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat selama dua tahun masa kepemimpinannya. Salah satu langkah tersebut adalah program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dimulai pada Februari 2025.

Program CKG merupakan inisiatif skrining medis gratis yang ditujukan untuk semua lapisan masyarakat, mulai dari balita hingga lansia. Masyarakat dapat mengunjungi puskesmas terdekat untuk mengetahui status kesehatan mereka dan mendeteksi risiko penyakit lebih awal, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, dan tuberkulosis.

Dengan program ini, Prabowo berupaya memperluas akses skrining kesehatan, terutama bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan layanan kesehatan. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk mengetahui risiko kesehatan mereka sejak dini dan mengatasi masalah tersebut sebelum berkembang menjadi penyakit kronis. Mengingat biaya pengobatan untuk penyakit kronis yang tinggi, program ini diharapkan dapat meringankan beban finansial masyarakat.

Namun, tujuan CKG tidak hanya terbatas pada deteksi awal. Prabowo melihat program ini sebagai investasi strategis dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk masa depan Indonesia. Dengan adanya CKG, diharapkan masyarakat dapat menjaga kesehatan mereka agar tetap produktif dalam jangka panjang, yang pada gilirannya akan meningkatkan taraf hidup dan mendukung pertumbuhan ekonomi negara.

Program CKG juga diharapkan dapat mengurangi anggaran kesehatan untuk penanganan penyakit kronis di masa mendatang. “Ini adalah program peningkatan produktivitas. Para ahli saya menyatakan bahwa dalam jangka panjang, kita akan menghemat miliaran dolar AS,” ungkap Prabowo saat membahas CKG dalam pidatonya di World Economic Forum pada 22 Januari 2026.

Saat ini, inisiatif Prabowo menjadi program kesehatan dengan jangkauan terbesar dalam sejarah Indonesia. Hingga 4 Oktober 2026, sekitar 105 juta orang telah memanfaatkan program ini.

Namun, target CKG tidak hanya berfokus pada jumlah peserta. Pemerintah juga menganalisis potensi risiko kesehatan para peserta untuk merumuskan kebijakan strategis dalam pencegahan dan penanganan masalah kesehatan.

Sebagai contoh, selama pelaksanaan CKG, Kementerian Kesehatan menemukan tiga masalah kesehatan yang paling umum di antara peserta, yaitu dislipidemia, hipertensi, dan diabetes. Berdasarkan temuan ini, pemerintah menerapkan tata laksana untuk mengatasi ketiga masalah tersebut agar masyarakat terhindar dari penyakit kronis seperti stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya. Tata laksana ini mencakup pemberian pengobatan serta perawatan gratis untuk membantu masyarakat menjalani pola hidup yang lebih sehat.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa upaya skrining dan tata laksana tersebut telah membantu masyarakat mengendalikan faktor risiko kesehatan sejak dini dan mendorong perubahan pola hidup yang lebih sehat. Ia merujuk pada rekam medis peserta CKG tahun lalu, khususnya data mengenai hipertensi dan kadar gula darah, yang merupakan dua faktor risiko utama untuk stroke dan penyakit kardiovaskular. Data tersebut dihitung hingga 30 September 2026.