Emak-Emak Yogyakarta Desak Perbaikan Tata Kelola Negara
HAIJOGJA.COM – Kelompok yang menamakan diri Suara Ibu Indonesia menggelar aksi bertajuk ‘ASAP BUKAN TAKDIR’ di Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026. Aksi ini merupakan respons terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bertujuan untuk mendesak penanganan yang lebih baik dari pemerintah.
Dalam aksi ini, Suara Ibu Indonesia berkolaborasi dengan mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Sasenitala, dan ISI Bergerak, yang turut serta dalam pertunjukan seni visual dan dialog warga untuk memicu protes publik.
Siti Fauziah Saekhoni, yang dikenal sebagai pemeran Bu Tejo dalam film Tilik, menjadi juru bicara dalam aksi tersebut. Ia mengekspresikan keprihatinan terhadap kondisi pengelolaan negara yang dinilai merugikan masyarakat kecil. “Remuk! (Kondisi negara saat ini), kita yang setiap hari belanja, ngecakke duit (mengatur keuangan), beli untuk kebutuhan rumah, yang paling terasa dampaknya itu pasti kami,” ungkap Ozie, sapaan akrabnya.
Dalam aksi ini, Ozie menyampaikan empat tuntutan utama. Pertama, ia menuntut pemerintah untuk menangani bencana dengan profesional dan tidak serampangan. “Tangani bencana dengan profesional, serius, dan cepat dan tepat! Ojo mung ngawang-ngawang (jangan cuma membayangkan) sak karepmu dewe,” tegasnya.
Kedua, mereka mendesak agar anggaran belanja negara diprioritaskan untuk menstabilkan perekonomian dan memenuhi hak-hak dasar warga, seperti udara bersih, kesehatan, pendidikan, dan harga bahan pokok. “Prioritaskan belanja negara untuk menstabilkan ekonomi dan pemenuhan hak dasar warga. Udara bersih, kesehatan, pendidikan, dan harga pokok, bukan memperkaya elit,” tambahnya.
Tuntutan ketiga menyoroti praktik adu domba antarwarga dan mobilisasi massa tanpa seragam oleh aparat saat demonstrasi. Sedangkan tuntutan keempat meminta jaminan kebebasan berpendapat dan penghentian pemblokiran konten suara rakyat di media sosial. “Jaminan kebebasan berpendapat dan stop sensor suara rakyat di media sosial. Jangan asal takedown-takedown. Merasa bahwasanya kowe iki sing duwe negara ngono? (Kamu yang punya negara) Salah! Yang punya itu kami semua ini, kalian hanya diamanahi,” jelasnya.
Pemilihan lokasi aksi di Titik Nol Kilometer bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan wisatawan mengenai dampak krisis ekonomi dan buruknya tata kelola negara yang dirasakan oleh seluruh warga Indonesia. “Kita tuh pengen membawa kesadaran ini lebih luas ke masyarakat terutama wisatawan yang lewat gitu bahwa keresahan ini bukan hanya di Jogja tapi seluruh Indonesia,” pungkasnya.
Meskipun telah melaksanakan aksi sebanyak sepuluh kali dalam setahun terakhir, Ozie menegaskan bahwa mereka akan terus bersuara dengan cara yang beradab hingga keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia tercapai.

Leave a Reply