HAIJOGJA.COM – Hujan yang turun sesekali di sejumlah kawasan perbukitan Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum mengakhiri kekeringan. Warga masih menghemat persediaan air, menunggu bantuan hingga empat hari sekali, bahkan mengambil air dari wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini dirasakan warga Padukuhan Junut, Kalurahan Pagerharjo, serta Padukuhan Tanjung, Kalurahan Banjaroya. Di Junut, warga di wilayah atas paling terdampak, yakni 28 kepala keluarga (KK) di RT 45 dan 13 KK di RT 46.

“Kalau musim hujan masih ada sumber-sumber air, tetapi kalau musim kemarau seperti sekarang, sumurnya kecil, bahkan ada yang mati,” kata Ngatijah, Dukuh Junut.

Warga Junut mengandalkan sumur pribadi dan jaringan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Namun, debit air terus berkurang saat kemarau sehingga pasokan tidak mencukupi kebutuhan seluruh warga. Distribusi dari jaringan Pamsimas pun dilakukan bergiliran.

“Itu digilir empat hari sekali karena dibagi menjadi empat kelompok. Jadi, warga harus menunggu giliran,” kata Ngatijah.

Untuk memenuhi kebutuhan warga, Ngatijah mengajukan bantuan air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Bantuan juga datang dari sejumlah komunitas, termasuk Alumni Van Lith asal Muntilan.

Air bantuan ditempatkan di tiga titik penampungan. Namun, persediaannya cepat habis karena langsung diambil warga untuk berbagai keperluan mendesak.

“Kalau dikirim sekarang, nanti sore mungkin sudah habis diambil warga. Kebutuhan air memang banyak,” tuturnya.

Warga mengambil air dari bak penampungan menggunakan selang. Sebagian lainnya memakai jeriken atau wadah penampung lain.

Kesulitan serupa dialami warga Padukuhan Tanjung, Kalurahan Banjaroya, Kapanewon Kalibawang. Dari empat RT di wilayah tersebut, tiga di antaranya mengalami kesulitan air bersih yang cukup parah saat kemarau, menurut Dukuh Tanjung Kuntarto.

Keterbatasan sumber mata air menjadi persoalan utama. Berada di dataran tinggi, warga Tanjung selama ini mengandalkan pasokan dari wilayah tetangga. Upaya pengeboran hingga kedalaman 120 meter belum menemukan air.

“Kita memang tidak punya mata air sendiri. Selama ini mengambil dari wilayah sebelah. Namun, ketika musim kemarau, alirannya juga sering tidak lancar,” kata Kuntarto.