HAIJOGJA.COM – Gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta pada malam hari Selasa, 27 Oktober 2026, menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai penyebab guncangan yang dirasakan.

Menurut Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, Dr. Wijayanto, karakteristik geologi wilayah Yogyakarta yang didominasi oleh lapisan aluvial atau tanah lunak berkontribusi terhadap amplifikasi guncangan gempa dan resonansi gelombang.

“Struktur geologi wilayah Yogyakarta didominasi oleh lapisan aluvial (tanah lunak) yang menyebabkan terjadinya amplifikasi (perbesaran) guncangan gempa serta resonansi gelombang, sehingga dampak getaran terasa jauh lebih kuat,” ungkap Wijayanto.

Kondisi geologi ini menjadi faktor penting dalam memahami dampak gempa di Yogyakarta. Namun, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tanah terhadap guncangan di lokasi tertentu, diperlukan data dan kajian yang lebih mendalam.

Amplifikasi adalah fenomena di mana guncangan gempa diperbesar saat gelombang merambat melalui lapisan tanah tertentu. Wijayanto menambahkan bahwa tanah aluvial di Yogyakarta dapat menyebabkan amplifikasi dan resonansi gelombang, sehingga getaran yang dirasakan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh sumber gempa, tetapi juga oleh karakteristik tanah di daerah terdampak.

Meskipun gempa berasal dari sumber yang sama, getaran yang dirasakan di lokasi berbeda dapat bervariasi tergantung pada kondisi geologi setempat.

Sejumlah warga melaporkan merasakan getaran gempa yang awalnya singkat, kemudian mereda, sebelum kembali terasa lebih kuat. Wijayanto menjelaskan bahwa kejadian gempa dalam waktu berdekatan juga memengaruhi persepsi getaran yang dirasakan.

“Gempa Yogyakarta pada Selasa kemarin memang ada dua kejadian dalam waktu berdekatan (selisih 55 detik). Gempa pertama terjadi pada pukul 21:43:10 WIB dengan magnitudo 5.0, dan gempa kedua pada pukul 21:44:05 WIB dengan magnitudo 5.2. Hal ini menjelaskan mengapa masyarakat merasakan dua kali getaran di mana getaran kedua terasa lebih kuat,” jelasnya.

Gelombang primer (P) dan gelombang sekunder (S) juga dapat tiba di suatu lokasi pada waktu yang berbeda. Gelombang S biasanya memiliki amplitudo yang lebih besar dibandingkan gelombang P, sehingga getaran dapat terasa lebih kuat saat gelombang berikutnya tiba.