Disperindag DIY Siapkan 14 Ton Sembako untuk Pasar Murah di Kulonprogo
HAIJOGJA.COM – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyiapkan 14 ton bahan kebutuhan pokok untuk pasar murah di tiga lokasi di Kabupaten Kulonprogo pada 3–5 November 2026. Kegiatan ini ditujukan agar masyarakat bisa mendapatkan sembako dengan harga lebih terjangkau sekaligus membantu mengendalikan inflasi menjelang akhir tahun.
Pasar murah pertama digelar di Kantor Kapanewon Pengasih pada Selasa (3/11/2026) pagi. Kegiatan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Lapangan Selo, Hargorejo, Kokap, pada 4 November, lalu di Salamrejo, Sentolo, pada 5 November 2026.
Pengawas Perdagangan Disperindag DIY, Sabar Santoso, mengatakan kegiatan tersebut melibatkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY. Pelaksanaan di beberapa lokasi diharapkan memperluas akses warga terhadap bahan pokok dengan harga lebih rendah.
“Ini dilaksanakan kegiatan dari Disperindag DIY dalam rangka pengendalian inflasi. Kami dari tim TPID DIY mengadakan kegiatan operasi pasar murah, salah satunya di Pengasih. Dan ini berlanjut sampai tanggal 3, 4, 5, nanti kita berlanjut di Kulonprogo. Total distribusi yang kami bawa sebanyak 14 ton,” ujar Sabar Santoso kepada wartawan, Selasa (3/11/2026).
Komoditas yang dijual meliputi beras, minyak goreng, gula pasir, telur, dan tepung. Menurut Sabar, produk disediakan dalam beragam pilihan harga dan kualitas agar warga dapat menyesuaikan belanja dengan kemampuan masing-masing.
“Ini sembako, dari telur, gula, minyak, beras, semuanya ada. Dan kami membuat dari yang paling istilahnya paling murah sampai yang paling mahal. Jadi silakan masyarakat untuk memilih,” imbuhnya.
Untuk menekan harga, pemerintah memberikan subsidi biaya distribusi. Sabar mencontohkan gula pasir yang umumnya dijual Rp17.500 hingga Rp18.000 per kilogram di pasaran luar, sedangkan dalam pasar murah harganya sekitar Rp16.000 per kilogram.
Disperindag DIY juga mencermati harga tepung dan gula yang mulai naik serta berpotensi langka. Kenaikan dan potensi kelangkaan itu disebut berkaitan dengan kondisi global maupun berakhirnya musim giling. Pasar murah menjadi salah satu langkah untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga kedua komoditas tersebut.
Warga yang berbelanja di Pengasih menyambut kegiatan tersebut dengan antusias. Suparti mengatakan pasar murah sangat membantu rumah tangga di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
“Ekonomi sangat sulit sekali dengan adanya pasar murah ini sangat membantu sekali bagi ibu-ibu rumah tangga. Semenjak adanya pasar murah ini semua bisa terjangkau,” ungkap Suparti seusai berbelanja.
Suparti membeli beras, minyak, telur, bawang, dan susu. Ia menyebut harga sejumlah bahan pokok membebani pengeluaran keluarga, termasuk harga beras di desanya yang sempat mencapai Rp16.000 per kilogram. Harga minyak goreng dan telur yang tinggi juga menjadi beban dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia berharap pasar murah dapat terus membantu masyarakat kecil dan harga kebutuhan pokok kembali stabil. Disperindag DIY berharap rangkaian kegiatan hingga 5 November 2026 dapat menjangkau lebih banyak warga Kulonprogo dan mendukung stabilitas harga pangan menjelang akhir tahun.

Tinggalkan Balasan