HAIJOGJA.COM – Fenomena El Nino yang memperpanjang kemarau menekan produktivitas cabai dan mendorong kenaikan harga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pasokan berkurang, sementara permintaan masyarakat relatif stabil.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat inflasi bulanan pada Oktober 2026 sebesar 0,27%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar, dengan inflasi 0,81% dan andil 0,23%.

Cabai merah menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi, yakni 0,08%. Komoditas lainnya adalah tomat sebesar 0,04%, akademi atau perguruan tinggi 0,03%, beras 0,03%, serta cabai rawit 0,03%.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho mengatakan kenaikan harga cabai merah pada September hingga Oktober 2026 dipengaruhi kemarau yang lebih kering dan panjang, yang diperkuat fenomena El Nino. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino 2026 telah masuk kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Dampaknya paling terasa pada Juli hingga Oktober.

Data BMKG hingga dasarian I Oktober 2026 menunjukkan pos pengamatan BPP Pajangan, Bantul, mengalami 161 hari tanpa hujan. Menurut Aris, durasi itu menjadi yang terpanjang di Indonesia selama musim kemarau ini.

Pada September, peringatan dini kekeringan meteorologis berstatus awas di seluruh wilayah DIY. BMKG juga memperkirakan awal musim hujan di DIY mundur sekitar satu bulan dari kondisi normal.

Kekurangan air berdampak langsung pada produksi cabai merah dan cabai rawit. Produktivitas tanaman menurun sehingga hasil panen berkurang. “Kekurangan air tersebut menurunkan produktivitas cabai merah dan cabai rawit sehingga hasil panen berkurang. Sementara itu, permintaan masyarakat relatif tetap. Ketika pasokan berkurang dan permintaan stabil, harga pun bergerak naik,” ujar Aris, Selasa (3/11/2026).

DPKP DIY memperkirakan pasokan mulai membaik pada November 2026. Sentra produksi cabai merah di kawasan pesisir Kulon Progo mulai memasuki masa panen pada awal November, dengan potensi panen raya yang didukung luas tanam cukup besar.

Bertambahnya hasil panen diharapkan menambah pasokan cabai merah di pasar sehingga harga dapat mulai stabil dan berangsur turun. Meski demikian, Aris mengatakan pemerintah tetap mencermati potensi peningkatan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru serta bulan Ramadan yang jatuh tidak lama setelahnya.

Pergerakan harga cabai di DIY juga dipengaruhi pasokan dari sentra produksi luar daerah dan perkembangan cuaca, termasuk perkiraan mundurnya musim hujan. Aris berharap pasokan petani di DIY tetap terjaga agar harga terkendali dan tidak melonjak tinggi. “Dinas akan terus memantau perkembangan harga bersama instansi terkait,” jelasnya.

Pada Selasa (3/11/2026), rata-rata harga di tingkat konsumen yang dicatat DPKP DIY adalah cabai keriting merah Rp60.000 per kilogram, cabai merah besar Rp40.000 per kilogram, cabai rawit merah Rp55.000 per kilogram, bawang merah Rp27.000 per kilogram, dan tomat Rp20.000 per kilogram. Cabai keriting merah menjadi yang termahal dalam daftar tersebut.

Untuk menjaga ketersediaan cabai dan bawang merah, DPKP DIY menyalurkan bantuan irigasi pompa bagi pertanaman hortikultura ke 13 lokasi di Gunungkidul dan tiga lokasi di Kulon Progo. Pemerintah daerah juga memberikan Bantuan Keuangan Khusus melalui Dana Keistimewaan kepada 17 kalurahan untuk kegiatan penanaman cabai dan bawang merah.

Pengendalian harga dan akses masyarakat terhadap pangan dilakukan melalui gerakan Pasar Murah. Sepanjang 2026, kegiatan yang melibatkan distributor sembako di seluruh DIY itu telah digelar 13 kali. DPKP DIY juga menyelenggarakan Bazar Kios Pangan Rumah sebanyak 59 kali pada tahun yang sama.

Plt. Kepala BPS Provinsi DIY Endang Tri Wahyuningsih sebelumnya mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan pada Oktober 2026. Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,81% dengan andil 0,23%, terutama dipicu kenaikan harga cabai merah dan tomat.

Kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,55% dengan andil 0,03%. Kenaikan biaya akademi atau perguruan tinggi menjadi penyebab sumbangan inflasi dari kelompok tersebut. “Lalu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan sumbangan deflasi pada bulan Oktober 2026 utamanya disebabkan oleh turunnya harga emas,” papar Endang.

Kenaikan harga cabai merah dan tomat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi inflasi DIY pada Oktober 2026. Perkembangan panen di Kulon Progo dan ketersediaan pasokan dari daerah lain terus dicermati untuk menjaga stabilitas harga pangan di DIY.