HAIJOGJA.COM – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengalokasikan Rp255 juta untuk menormalisasi Luweng Ngegong di Padukuhan Rejosari, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari. Pengerukan dilakukan untuk memperlancar aliran air hujan dan mengurangi risiko banjir yang kerap menggenangi kawasan SMK Negeri 1 Tanjungsari.

Sekolah yang dikenal masyarakat sebagai SMK Kelautan Tanjungsari itu berada di dataran rendah. Jalur pembuangan air kawasan tersebut menuju Luweng Ngegong, sehingga sekolah dan sekitarnya rentan tergenang saat musim hujan.

Warga Kalurahan Kemadang, Surisdiyanto, mengatakan banjir di kawasan itu berulang setiap musim hujan. Kondisi saluran pembuangan yang tidak lancar memperparah genangan, sementara mulut luweng sebelumnya tertutup lumpur akibat sedimentasi.

“Banjir di kawasan SMK Kelautan hampir terjadi di setiap musim hujan,” kata Suris, Selasa (3/11/2026).

Surisdiyanto mengapresiasi pengerukan Luweng Ngegong yang telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu. Ia berharap normalisasi dapat mengembalikan fungsi luweng sebagai tempat pembuangan air hujan dan mengurangi risiko banjir di sekitar sekolah.

“Harapannya potensi banjir bisa dicegah,” katanya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Sigit Swastono, membenarkan pekerjaan normalisasi tersebut. Hingga Selasa (3/11/2026), progres proyek telah mencapai 77% dan ditargetkan selesai pada 21 November 2026.

“Sekarang progresnya sudah 77% dari target. Rencananya, normalisasi Luweng Ngegong selesai pada 21 November mendatang,” kata Sigit.

Pekerjaan utama proyek ini adalah mengeruk mulut luweng untuk menemukan saluran air yang tertutup sedimentasi lumpur. Pengerukan dilakukan menggunakan alat berat hingga kedalaman sekitar lima meter.

“Dikeruk menggunakan alat berat dengan kedalaman lima meter. Setelah dikeruk mulut luweng bisa dipergunakan masuk orang dewasa, padahal sebelumnya tertutup lumpur dan tanah,” ungkapnya.

Selain pengerukan, DPUPRKP Gunungkidul membangun saluran pembuangan air yang mengarah langsung ke mulut Luweng Ngegong. Saluran itu diharapkan memperlancar aliran hujan menuju luweng agar air tidak kembali menggenangi sekolah dan lingkungan sekitarnya.

“Tujuan utama normalisasi Luweng Ngegong untuk mengurangi risiko banjir di kawasan ini,” katanya.

Menurut Sigit, banjir di kawasan tersebut juga dapat memutus akses menuju kawasan wisata pantai, sehingga perjalanan wisatawan harus dialihkan melalui jalur lain. Wilayah terdampak tercatat seluas 7,4 hektare, meliputi fasilitas pendidikan, jalan, lahan pertanian, dan lapangan.

“Saat terjadi banjir area terdampak mencapai 7,4 hektare. Yang terendam tidak hanya sekolah dan jalan, tapi juga ada lahan pertanian hingga lapangan,” katanya.