HAIJOGJA.COM – Hujan es di Dusun Jodog, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Bantul, Senin (2/11/2026) pagi, merusak rumah warga. Bongkahan es yang diperkirakan berdiameter sekitar 20 sentimeter itu menghantam atap hingga menjebol plafon.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 08.00 WIB saat hujan berintensitas ringan mengguyur wilayah tersebut. Rumah yang terdampak milik Veronica Suharti, warga RT 3 Dusun Jodog.

Benturan bongkahan es merusak atap berbahan galvalum pasir dan plafon PVC beserta rangkanya. Kursi kayu di ruang tamu juga patah karena tertimpa bongkahan es. Kerusakan atap dan plafon di ruang tamu tercatat sekitar 1 x 1 meter.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik dan Peralatan BPBD Kabupaten Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan petugas mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Menurut dia, rumah tersebut kosong dan sudah lama tidak ditempati pemiliknya, yang tinggal di Cilacap, Jawa Tengah.

“Rumah dalam kondisi kosong dan sudah lama tidak ditempati pemiliknya. Pemilik rumah tinggal di Cilacap, Jawa Tengah,” kata Antoni, Senin (2/11/2026). Kerugian materi akibat kejadian itu diperkirakan mencapai Rp500.000. Tidak ada korban jiwa maupun luka.

Antoni menjelaskan, kakak pemilik rumah, Petrus Sambudji, sedang beristirahat di gazebo depan rumah saat kejadian. Ia mendengar suara dentuman dari arah depan bangunan. Setelah memeriksa sumber suara, Petrus mendapati bongkahan es besar telah menghantam atap rumah.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka, karena rumah itu memang kosong saat kejadian. Yang terdampak hanya kerusakan bangunan,” jelas Antoni.

BPBD belum dapat memastikan penyebab hujan es tersebut. Antoni mengatakan data yang dihimpun petugas akan dikoordinasikan dengan BMKG untuk dianalisis lebih lanjut.

Secara meteorologis, hujan es berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb), yang juga berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, dan petir. Proses terbentuknya es berlangsung di dalam awan, bukan di dekat permukaan bumi.

Awan Cumulonimbus dapat tumbuh hingga ketinggian sekitar 15–18 kilometer dan mencapai lapisan atmosfer bersuhu di bawah nol derajat Celsius. Di dalamnya terdapat tetesan air yang suhunya sudah di bawah titik beku, tetapi belum membeku. Kondisi ini disebut supercooled water atau air superdingin.

Ketika tetesan tersebut bertemu partikel debu atau kristal es, pembekuan dapat terjadi dan membentuk inti hujan es. Bongkahan es bisa membesar saat berada di dalam awan sebelum jatuh ke permukaan bumi.

Meski Indonesia beriklim tropis, hujan es tetap dapat terjadi jika kondisi atmosfer mendukung. Faktor yang memengaruhi antara lain labilitas atmosfer yang tinggi, arus udara naik yang kuat akibat konveksi intens, keberadaan lapisan udara dingin di atmosfer atas, serta posisi lapisan beku yang relatif lebih rendah.