Desty Kembali Mengajar Setelah Berjuang Menghadapi Gangguan Skizoafektif
HAIJOGJA.COM – Desty Endah Nurmalasari kini kembali mengajar Bahasa Inggris setelah menjalani perjalanan panjang menghadapi gangguan skizoafektif. Ia juga aktif berbagi dalam forum internasional dan mendampingi orang dengan disabilitas psikososial (ODDP).
Sebelum pulih, Desty sempat kehilangan kendali atas hidupnya karena mengalami halusinasi. Alih-alih mencari pekerjaan setelah lulus dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), perempuan asal Kulon Progo itu lebih banyak menghabiskan waktu di kamar.
Gangguan tersebut mulai muncul pada 2012, ketika Desty baru menyelesaikan skripsi dan bersiap mengikuti wisuda dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNY. Menjelang wisuda, ia merasakan kebahagiaan sekaligus kecemasan dan kegelisahan.
Suatu hari, saat mengendarai sepeda motor dari Kulon Progo menuju Pasar Beringharjo, Yogyakarta, untuk membeli kebaya, Desty mendengar suara yang mengatakan dirinya sedang diikuti seseorang.
“Kamu sedang diikuti orang, ayo ngebut, ada suara itu di kepala saya terus menerus,” ujar Desty saat berbagi cerita dalam Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare: Modern Mental Wellness – Science-Based Strategies for Emotional Resilience yang diselenggarakan FKKMK UGM di Yogyakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurut Desty, suara itu seolah mengatur tindakannya dan ia menuruti perintah yang didengarnya. Suara-suara tersebut terus muncul selama berbulan-bulan setelah wisuda. Tanpa penanganan yang tepat, kondisinya memburuk.
Perempuan yang kini berusia 38 tahun itu lebih sering mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktu membaca buku, terkadang tertawa sendiri, dan mulai berbicara dengan suara yang didengarnya.
Keluarganya sempat tidak memahami kondisi Desty. Setelah mendapat saran dari orang lain, ayahnya membawanya berobat ke psikiater di RSUP Dr Sardjito. Desty mendapat obat dan menjalani pengobatan selama beberapa bulan.
Namun, tanpa pendampingan yang mengingatkannya untuk rutin berobat, Desty memutuskan berhenti mengonsumsi obat. Kondisinya kembali memburuk dan ia pernah mengamuk hingga melempar gelas.
“Saya dulu bukannya mencari kerja setelah lulus kuliah, tetapi malah berbicara sendiri dengan suara yang saya dengar,” ujarnya.
Desty juga mengenang tekanan yang pernah dialaminya, termasuk kekerasan dari orang tua. Saat kuliah, ia membagi waktu antara pekerjaan paruh waktu, perkuliahan, dan penyelesaian skripsi. Ia juga pernah mengalami gangguan lambung hingga kesulitan makan dengan layak.
Titik balik dalam pemulihan Desty terjadi ketika kader kesehatan jiwa bersama Pust Rehabilitasi Yakkum mendatangi rumahnya. Melalui pendampingan itu, ia kembali diarahkan untuk menjalani pengobatan.
Desty juga dikenalkan dengan kelompok dukungan atau Self Help Group (SHG), yang mempertemukan ODDP di tingkat desa. Selain mengingatkan anggotanya untuk rutin berobat, kelompok tersebut mengajak mereka mengikuti berbagai aktivitas bersama.

Tinggalkan Balasan