HAIJOGJA.COM – Meningkatnya sikap agnostik di kalangan anak muda menjadi perhatian bagi kehidupan beragama. Data Pew Research Center pada 2023 menyebutkan, 36 persen masyarakat Indonesia menyatakan diri sebagai agnostik atau tidak lagi memiliki afiliasi dengan agama tertentu.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar mengatakan, tren tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara lain. Ia mencontohkan anak muda di lingkungan perguruan tinggi di Amerika Serikat yang mulai tidak percaya atau tidak lagi peduli terhadap keberadaan Tuhan.

Pernyataan itu disampaikan Syamsul dalam persiapan Munas Tarjih ke-XXXIII di kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (2/11/2026). Ia menilai, salah satu faktor yang turut memengaruhi cara sebagian anak muda memandang agama dan Tuhan adalah buku The God Delusion karya penulis asal Inggris yang dikenal dengan pandangan ateismenya.

Syamsul menjelaskan, perkembangan spiritual manusia tidak berlangsung secara lurus. Pada masa tertentu, masyarakat dapat merindukan agama, sementara pada masa lain justru menjauh dari kehidupan beragama.

“Perkembangan spiritual itu bersifat zig-zag. Pada suatu saat orang rindu kepada agama, pada saat lain orang bisa menjauh dari agama. Perkembangannya berbelok-belok sejak zaman dahulu,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, masyarakat Eropa pada Abad Pertengahan memiliki kepercayaan kuat terhadap Tuhan. Namun, ketika memasuki zaman Renaisans, pemikiran sekuler berkembang dan kepercayaan terhadap agama menghadapi tantangan.

Kebangkitan agama sebelumnya pernah diprediksi menjadi salah satu karakteristik abad ke-21. Meski demikian, munculnya kembali fenomena agnostisisme menunjukkan hubungan manusia dengan agama terus mengalami perubahan.

Menurut Syamsul, Muhammadiyah perlu merespons perkembangan itu dengan memperkuat akidah. Upaya tersebut, kata dia, tidak hanya penting untuk menjaga keyakinan umat Islam, tetapi juga berkaitan dengan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kepercayaan kepada Tuhan itu penting. Apalagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, membangun akidah juga berarti mempertahankan sila pertama ini,” tegasnya.

Muhammadiyah, lanjut Syamsul, akan memperkuat dakwah melalui Majelis Tabligh dan mengembangkan kajian keagamaan dengan pendekatan yang sesuai perkembangan zaman. Pembahasan lebih konkret dijadwalkan dalam Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Jawa Timur, pada 5-7 November 2026.

“Muhammadiyah menyiapkan penguatan akidah yang tidak sekadar berisi doktrin dan norma, tetapi harus mampu menjawab persoalan nyata kehidupan generasi muda,” paparnya.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ustadi Hamsah mengatakan, salah satu agenda penting dalam Munas tersebut adalah menyusun Risalah Akidah Islam Muhammadiyah.

Menurut Ustadi, Muhammadiyah ingin menghadirkan pemahaman akidah yang tidak hanya berhenti pada norma agama, hafalan, atau konsep teoretis. Akidah, kata dia, perlu mampu menjawab persoalan yang dihadapi umat dan masyarakat.