HAIJOGJA.COM – DPRD Bantul meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama masa peralihan musim atau pancaroba. Angin kencang, pohon tumbang, hingga genangan air mendadak perlu diantisipasi melalui mitigasi sejak dini.

Ketua Komisi A DPRD Bantul, Jumakir, mengatakan cuaca ekstrem pada masa pancaroba dapat terjadi sewaktu-waktu. Kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat, menurut dia, penting untuk mengurangi risiko bencana.

Jumakir meminta BPBD Bantul memastikan seluruh personel dan sarana prasarana penanggulangan bencana siap digunakan. Ia juga meminta sistem peringatan dini atau early warning system berfungsi optimal selama 24 jam.

“Kami meminta BPBD Bantul memastikan seluruh personel dan sarana prasarana penanggulangan bencana dalam kondisi siap digunakan. Sistem peringatan dini atau early warning system juga perlu dipastikan berfungsi optimal selama 24 jam,” ujarnya, Minggu (1/11/2026).

Selain kesiapan personel dan peralatan, Jumakir meminta pemetaan wilayah rawan bencana di setiap kapanewon dan kalurahan diperkuat. Kapasitas Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat kalurahan juga perlu ditingkatkan agar dapat menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana berbasis masyarakat.

“Kesiapsiagaan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat juga perlu menggiatkan gotong royong untuk mengurangi risiko bencana di lingkungan masing-masing,” jelasnya.

Jumakir menyebut warga dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko bencana saat pancaroba, seperti memangkas dahan pohon yang lapuk atau terlalu rimbun dan membersihkan saluran drainase agar aliran air tidak terhambat.

Masyarakat juga diminta memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar dapat meningkatkan kewaspadaan saat ada potensi cuaca ekstrem di wilayah masing-masing.

Di sisi lain, BPBD Bantul masih mempertahankan status siaga darurat kekeringan hingga akhir Desember 2026. Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan status tersebut tetap berlaku meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah.

“Meski sejumlah wilayah sudah turun hujan, distribusi air bersih masih berpotensi kami upayakan karena sumber air masyarakat belum langsung kembali cukup,” katanya.

Antoni menyebut total distribusi air bersih selama tahun ini telah mencapai sekitar tujuh juta liter. Ia mengatakan hujan belum tentu langsung memulihkan ketersediaan air tanah yang dibutuhkan masyarakat.

“Bisa saja nanti sudah hujan, tetapi tetap ada daerah yang harus kami suplai air bersih. Sebab, hujan yang turun belum tentu langsung mencukupi kebutuhan air tanah masyarakat,” katanya.

Menurut Antoni, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan pemulihan sumber air membutuhkan waktu meskipun hujan sudah mulai turun. Karena itu, BPBD tetap membuka kemungkinan menyalurkan bantuan air bersih selama kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak belum terpenuhi.