Radar BMKG Tak Mendeteksi Hujan Saat Bongkahan Es Merusak Rumah di Bantul
HAIJOGJA.COM – BMKG menyatakan radar cuaca tidak mendeteksi hujan di lokasi jatuhnya bongkahan es yang merusak rumah warga di Dusun Jodog, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Bantul, Senin (2/11/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Asal-usul bongkahan es itu masih memerlukan analisis lebih lanjut.
Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi BMKG Jogja, Heri, mengatakan hujan ringan di Pandak baru terpantau sekitar pukul 09.00 WIB, atau sekitar satu jam setelah kejadian. “Saat kejadian, dari data radar kami tidak terjadi hujan. Hujan di Pandak baru terjadi pukul 09.00 WIB dan itu hujan ringan,” kata Heri.
Analisis citra radar pada pagi hari menunjukkan adanya awan hujan di wilayah Bantul. Namun, awan tersebut berada di Pajangan dan Panggungharjo, Sewon, bukan tepat di atas lokasi rumah yang terdampak. Kedua wilayah itu terletak di sebelah barat laut dan utara Pandak. “Jadi tidak berada di lokasi yang dimaksud,” ujarnya.
BMKG masih mendalami penyebab jatuhnya bongkahan es. Salah satu kondisi atmosfer yang menjadi perhatian dalam analisis awal adalah potensi gangguan Madden-Julian Oscillation (MJO) spasial di Pulau Jawa. Heri menegaskan, fenomena itu belum dapat dipastikan berhubungan langsung dengan peristiwa di Pandak karena cakupannya meliputi Pulau Jawa, sedangkan laporan yang diterima sejauh ini hanya menyebut satu rumah.
“Fenomena MJO spasial mencakup area Pulau Jawa, kejadian bersifat lokal sehingga diperlukan analisis lebih detail lagi. Kejadian spesifik hanya di rumah di Pandak perlu analisis lebih dalam dengan data lebih detail terkait dari mana esnya itu,” ucap Heri. BMKG membutuhkan data pendukung yang lebih terperinci untuk memastikan asal bongkahan es dan belum dapat menyimpulkan penyebab pastinya.
Sekretaris BPBD Bantul, Ribut Bimo Haryo Tejo, mengatakan hasil penelusuran di lapangan tidak menemukan pabrik es di sekitar lokasi yang berpotensi menjadi sumber bongkahan tersebut. BPBD juga memperoleh informasi bahwa tidak ada hujan maupun angin kencang sebelum dan saat es jatuh.
Ribut meminta masyarakat tetap waspada dan bersiap menghadapi kemungkinan kejadian serupa maupun bencana akibat perubahan cuaca. “Kejadian ini masih perlu dicermati sebagai fenomena yang belum diketahui penyebab pastinya. Kami meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kejadian serupa maupun bencana akibat perubahan cuaca,” pungkasnya.
Bongkahan berdiameter sekitar 20 sentimeter, atau kurang lebih sebesar kelapa muda, menghantam rumah Veronica Suharti di RT 3 Dusun Jodog. Benturan itu menjebol bagian atap berbahan galvalum pasir dan plafon PVC beserta rangkanya. Sebuah kursi kayu di ruang tamu juga patah.
Peristiwa tersebut terjadi tanpa disertai hujan maupun angin kencang berdasarkan informasi BPBD dan pemantauan radar BMKG. Hingga kini, asal-usul bongkahan es yang merusak rumah warga itu belum diketahui.

Tinggalkan Balasan