HAIJOGJA.COM – BMKG menyatakan tidak menemukan indikasi cuaca ekstrem yang menonjol saat bongkahan es menembus atap rumah warga di Jodog RT 03, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Forecaster on Duty BMKG, Heri, mengatakan pantauan data atmosfer pada pukul 08.00 WIB hanya menunjukkan potensi hujan ringan hingga sedang di sebelah barat laut lokasi kejadian. Potensi hujan serupa juga terpantau di sebelah utara, tetapi pada jarak yang lebih jauh.

“Jadi dalam kondisi kalau dari kondisi atmosfer saat ini tuh sebenarnya memang ada gangguan namanya Madden-Julian Oscillation spasial, jadi tuh area yang terpengaruh tuh sebagian besar Pulau Jawa,” kata Heri, Senin (2/11/2026).

Heri menjelaskan, kelembapan udara di wilayah DIY menunjukkan tutupan pada ketinggian 1,5 kilometer hingga 3 kilometer dengan angka 50 sampai 90 persen. Kondisi tersebut berpotensi memicu hujan ringan hingga sedang.

“Kalau dari kondisi ini sebenarnya untuk kondisinya memang potensi ada hujan ringan hingga sedang di wilayah DIY. Cuma untuk memastikan suatu fenomena yang skalanya apa ya, kecil dan lokal seperti itu, ya itu analisisnya lebih dalam lagi,” jelas Heri.

Ia mengatakan diperlukan data lanjutan untuk menganalisis fenomena tersebut secara lebih mendalam. “Perlu data yang lebih lanjut lagi. Untuk sementara dari citra radar itu yang bisa kita lihat. Belum bisa lebih detail lagi,” imbuhnya.

Dari pengamatan cuaca pada pagi hari itu, BMKG tidak melihat dinamika atmosfer yang sangat ekstrem, yang biasanya dapat memicu terbentuk dan jatuhnya bongkahan es.

“Tapi kondisi pagi ini tuh kok kami enggak melihat ada yang terlalu yang sangat ekstrem. Hanya kondisi umum. Kalau misalnya itu memang terjadi harusnya enggak cuma di situ,” kata Heri.

Sebelumnya, BPBD Kabupaten Bantul menyampaikan bahwa saat bongkahan es menimpa rumah warga di Jodog RT 03, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, tidak terjadi hujan maupun angin kencang. BPBD sementara mengategorikan kejadian tersebut sebagai fenomena alam.

“Saat kejadian juga tidak hujan. Jadi kalau berdasarkan analisis sementara di lapangan tadi ya fenomena,” kata Sekretaris BPBD Kabupaten Bantul saat dihubungi melalui telepon, Senin (2/11/2026).

Petugas yang menyisir kawasan sekitar juga tidak menemukan pabrik es di dekat permukiman warga. Asal-usul bongkahan es berdiameter sekitar 20 sentimeter itu belum diketahui secara pasti.

“Tidak ada pabrik es di sekitar lokasi,” kata Bimo.

BPBD mengimbau masyarakat memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kalurahan, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), lembaga terkait, dan jejaring relawan untuk meningkatkan kewaspadaan di lingkungan masing-masing.