HAIJOGJA.COM – Inflasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Oktober 2026 mencapai 0,27%, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,22%. Kenaikan harga cabai merah, tomat, beras, serta biaya pendidikan perguruan tinggi menjadi sejumlah faktor pendorong.

Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi DIY tercatat 3,02%. Sementara itu, inflasi berdasarkan tahun kalender atau year-to-date (ytd) mencapai 2,08%.

Plt. Kepala BPS Provinsi DIY Endang Tri Wahyuningsih menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan. Kelompok ini mengalami inflasi 0,81% dengan andil 0,23%. Kenaikan harga cabai merah dan tomat menjadi faktor utamanya.

Biaya akademi atau perguruan tinggi juga berkontribusi terhadap inflasi. Kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,55% dengan andil 0,03%.

“Lalu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan sumbangan deflasi pada bulan Oktober 2026 utamanya disebabkan oleh turunnya harga emas,” ujar Endang dalam rilis bulanan secara daring, Senin (2/11/2026).

Cabai merah menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan DIY, yakni 0,08%. Berikutnya, tomat menyumbang 0,04%, sedangkan akademi/perguruan tinggi, beras, dan cabai rawit masing-masing memberikan andil 0,03%.

Sejumlah komoditas lainnya menyumbang deflasi. Daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil -0,04%, disusul emas perhiasan sebesar -0,02%. Semangka, apel, dan telur ayam ras masing-masing tercatat memberikan andil deflasi 0,01%.

Inflasi tahunan DIY pada Oktober 2026 sebesar 3,02%, turun dari 3,18% pada bulan sebelumnya. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,18% dengan andil terbesar, yakni 1,16%. Kenaikan harga beras dan cabai rawit terutama memengaruhi kelompok tersebut.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 8,75% dengan andil 0,61%, terutama dipengaruhi harga emas perhiasan. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar ketiga, dengan andil 0,55% dan bensin sebagai komoditas utamanya.

Emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar, yakni 0,56%, disusul bensin sebesar 0,35%. Beras menyumbang 0,17%, cabai rawit 0,16%, dan buncis 0,10%.

Kelapa menjadi penyumbang deflasi tahunan terbesar dengan andil -0,15%. Komoditas lain yang turut menyumbang deflasi adalah telur ayam ras, bawang merah, daun melinjo, dan sabun deterjen bubuk.

“Andil deflasi, lima komoditas terbesar yang pertama adalah kelapa dengan andil deflasi sebesar -0,15%, disusul oleh telur ayam ras, bawang merah, daun melinjo, serta sabun deterjen bubuk,” kata Endang.

Secara nasional, BPS mencatat inflasi bulanan Oktober 2026 sebesar 0,22%. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Inflasi nasional secara tahunan tercatat 3,23%, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,40%.

Ateng menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi bulanan nasional. Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,51% dengan andil 0,15%.

“Dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau ini memberikan andil inflasi sebesar 0,15%,” ujarnya.

Cabai merah menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar dalam kelompok tersebut, yakni 0,13%. Berikutnya cabai rawit menyumbang 0,05% dan tomat 0,04%.

“Kemudian sawi hijau, labu siam dan sawi putih dengan andil inflasi masing-masing 0,01%,” kata Ateng.