HAIJOGJA.COM – Berkunjung ke Yogyakarta nggak selalu harus ke Malioboro, lho.

Kota ini menyimpan banyak spot menarik, terutama bagi kamu yang gemar membaca.

Salah satunya adalah book cafe, tempat ngopi yang sekaligus menawarkan atmosfer literasi.

Kalau kamu ingin menikmati suasana santai, estetik, dan dikelilingi aroma buku, Renaisansi Coffee and Theotraphi wajib banget masuk daftar kunjunganmu.

Apa yang membuat kafe buku ini begitu istimewa?

Cerita Pengunjung saat ke Renaisansi Coffee and Theotraphi

Simak cerita pengalaman seorang pengunjung saat ke Renaisansi Coffee and Theotraphi berikut ini, dikutip dari IDN Times!

1. Renaisansi Coffee and Theotraphi: Kembali Menyajikan Cerita

Salah satu alasan kuat buat mampir ke Renaisansi Coffee and Theotraphi adalah karena kafe buku ini baru saja dibuka kembali.

Toko buku ini kembali menyeduh cerita di tengah hiruk-pikuk kota.

Sebenarnya, toko buku independen ini sudah berdiri sejak September 2015, jadi bukan hal baru.

Selain itu, ambience di kafe ini benar-benar unik dan sulit kamu temukan di tempat lain.

Ruangannya memang nggak terlalu luas, tapi bayangkan, tiap sudutnya dipenuhi buku.

Kalau kamu ngulik satu hari penuh pun rasanya nggak bakal selesai.

Aroma kopi berpadu dengan buku lawas dan baru adalah kombinasi yang bikin nyaman banget.

Gak cuma itu, pemiliknya paham banget kebiasaan para pembaca, jadi lagu yang diputar selalu lembut dan menenangkan.

Kamu pasti betah berlama-lama di sini.

Penataan ruangannya juga estetik maksimal, apalagi tulisan Theotraphi di ruang utama dengan lampu baca temaram kuning sehingga bikin foto kamu auto instagrammable!

2. Menu yang Bukan Hanya Rasa, tapi Penuh Makna

Salah satu menu kopi di Renaisansi (Source: Clean Qurrota)

Karena ini book cafe, tentu kurang lengkap kalau nggak nyobain kopinya.

Kamu dapat memilih salah satu menu andalan, namanya Stoikisme.

Nama yang unik, ya! Rasanya nggak terlalu kuat tapi tetap terasa, dengan manis alami dari palm sugar yang berpadu harmonis dengan kopi.

Tapi bukan cuma Stoikisme, lho.

Ada juga Rasionalisme untuk varian butterscotch, Empirisme untuk salted caramel, Positivisme dengan hazelnut, Skeptisme perpaduan butterscotch dan palm sugar, serta nama-nama lain seperti Dualisme, Humanisme, Pragmatisme, Kritisme, dan Strukturalisme.

Menariknya, tema filosofinya tetap konsisten untuk menu espresso-based.

Kamu akan menemukan nama-nama seperti Estetika, Semiotika, Semantika, Hermeneutika, hingga Idealisme.

Kalau belum percaya, datang langsung ke sini, dijamin kamu bakal senyum-senyum sendiri lihat daftar menunya yang kreatif banget!

3. Menyelami Kehangatan di Setiap Lembar Buku

Jajaran buku di Theotraphi (Source: Clean Qurrota)

Renaisansi Coffee and Theotraphi nggak cuma menjual kopi, tapi juga “menyajikan ilmu”.

Koleksi bukunya lengkap banget, mulai dari filsafat Barat maupun Timur, teori politik, sampai pemikiran kritis, semuanya ada.

Buku sejarah pun tak kalah lengkap, mulai dari sejarah dunia, biografi tokoh, hingga politik modern dan klasik.

Koleksi sastra mereka juga luar biasa, dari sastra klasik Indonesia, novel dunia, hingga karya kontemporer.

Banyak karya Pramoedya Ananta Toer dan puisi Sapardi Djoko Damono terpajang rapi di rak.

Buku-buku seputar ilmu sosial, sains, gender, dan kesehatan juga tersedia.

Bahkan koleksi musik dan seni siap menemani secangkir kopi sambil menikmati sore yang panjang.

Renaisansi Coffee and Theotraphi adalah perpaduan manis antara aroma kopi, lembaran buku, dan percakapan yang tenang.

Tempat ini bukan sekadar duduk manis sambil menyeruput minuman, tapi juga tentang menyerap suasana, menemukan buku yang bisa mengubah cara pandangmu, dan pulang dengan hati lebih penuh.

Kalau suatu hari mampir ke Jogja, sempatkan duduk di salah satu sudutnya, pesan kopi dengan nama yang bikin penasaran, dan biarkan waktu berjalan pelan sambil larut dalam bacaan.

Siapa tahu, kamu nggak cuma pulang dengan foto estetik, tapi juga ide-ide baru yang hangat di kepala.