HAIJOGJA.COM — Biennale Jogja 2025 kembali digelar dengan mengusung tema “Kawruh: Tanah Lelaku”.

Pada edisi ke-18 ini, event kebudayaan tersebut berfokus pada eksplorasi pengetahuan lokal serta praktik seni yang berakar di desa-desa.

Tidak sekadar menjadi pameran seni rupa, Biennale Jogja tahun ini dirancang sebagai ruang pertemuan lintas pengetahuan dan praktik hidup.

Desa bukan hanya diposisikan sebagai latar, tetapi menjadi tubuh pengetahuan aktif yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Sebagai informasi, dalam tradisi Jawa, “kawruh” tidak hanya dimaknai sebagai pengetahuan rasional, tetapi juga sebagai hasil dari pengalaman, relasi, dan praktik hidup.

Biennale Jogja 2025 Usung Konsep Translokal dalam Seni Kontemporer

Dalam konteks seni global, Biennale Jogja 2025 juga menanggapi tren yang berkembang.

“Di Venice Biennale 2024, banyak karya dari kelompok adat dan tradisi lokal diberi ruang,” ungkap Alia.

Namun Biennale Jogja tidak sekadar mengikuti tren, melainkan memperkuat akar lokal sebagai bagian dari peta seni dunia.

Konsep translokal menjadi pendekatan utama internasionalisme tahun ini.

Sebanyak 12 seniman dari berbagai negara akan terlibat, termasuk dari Kaledonia Baru yang mengangkat riset tentang pohon sukun.

Pohon sukun merupakan simbol perlawanan yang dibawa leluhur mereka dari Jawa di masa kolonial.

Kisah ini menunjukkan bagaimana narasi lokal bisa terhubung dengan sejarah global secara kontekstual.

Program Biennale tahun ini juga dirancang mengikuti ritme kehidupan warga.

Rutinitas seperti senam pagi bisa menjadi bahan koreografi baru, tanpa menggeser peran warga sebagai subjek utama.

Seni dalam Biennale Jogja 2025 juga menjadi sarana dokumentasi hidup, menangkap pengetahuan dan praktik budaya yang rentan tergerus zaman.

Pengetahuan lokal tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang usang, tetapi justru sebagai dasar masa depan seni yang berkelanjutan.

Dengan narasi yang berpijak pada kehidupan masyarakat desa, Biennale Jogja 2025 menjadi jembatan antara seni dan kehidupan sehari-hari.

Ini bukan sekadar festival seni, tetapi sebuah ruang laku, tempat pengetahuan tumbuh dari tanah, dan jalan pulang bagi seni untuk kembali menyatu dengan komunitas dan alam.

Kawruh bukan nostalgia, tetapi masa depan seni yang perlu dijaga dan dirawat.

“Silakan datang, nantikan kami di Biennale Jogja 18: Kawruh, Tanah Lelaku akan hadir di desa-desa. Sampai jumpa di sana,” ujar Alia.

Jadwal dan Rangkaian Acara Biennale Jogja 2025

1. Babak Pertama

  • Lokasi: Dusun Boro, Galur, Kulon Progo
  • Tanggal: 19—24 September 2025

Rangkaian pertama Biennale Jogja 2025 akan digelar di Dusun Boro, yang memiliki sejarah panjang termasuk jejak pabrik gula dari era kolonial.

Di lokasi ini, kegiatan akan difokuskan pada residensi seniman dan interaksi langsung dengan warga desa.

Selama lima hari, seniman dan warga akan tinggal bersama dan saling berbagi ruang hidup.

“Kami tidak datang membawa program. Justru kami belajar dari warga,” ujar Alia Swastika, Direktur Biennale Jogja.

Seniman tidak lagi menjadi pusat, tetapi hadir sebagai fasilitator.

Mereka ikut dalam aktivitas warga seperti bertani, senam pagi, hingga gejog lesung, yang menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karya.

Proses kreatif tumbuh dari aktivitas sehari-hari, bukan datang dari luar sebagai agenda yang dibebankan.

Dalam pembukaan babak pertama Biennale Jogja 2025, akan tampil kelompok ibu-ibu pemain gejog lesung dari Dusun Sawit.

Ibu-ibu tersebut telah mendapatkan pendampingan oleh yayasan sejak 2023.

Dari yang semula belum pernah tampil di luar desa, kini mereka akan tampil di pembukaan Biennale dan berkolaborasi dengan seniman asal Italia.

“Ini bentuk keberlanjutan. Tidak harus selalu lewat Biennale, tapi jadi pintu bagi kolaborasi baru,” kata Alia.

Mereka akan berkolaborasi dengan seniman dari Italia dalam penampilan lintas budaya yang unik.

Kegiatan Unggulan:

  • Tinggal bersama warga dan berbagi ruang hidup
  • Proses penciptaan karya berbasis pengalaman sehari-hari
  • Partisipasi dalam kegiatan komunitas seperti:
    • Gejog lesung
    • Senam pagi
    • Bercocok tanam
  • Diskusi terbuka dan lokakarya mini dengan warga

2. Babak Kedua

  • Lokasi: Desa Panggungharjo, Tirtonirmolo, dan Bangunjiwo, Kabupaten Bantul
  • Tanggal: 5 Oktober — 20 November 2025

Babak kedua akan tersebar di tiga desa berbeda di Bantul.

Setiap lokasi dipilih berdasarkan riset mendalam dan memiliki karakteristik unik yang memengaruhi pendekatan artistik.

1. Panggungharjo:

  • Fokus pada pengelolaan sampah dan kebijakan lingkungan
  • Kegiatan kolaboratif dengan warga dan pemerintah desa
  • Instalasi seni berbasis isu ekologis

2. Tirtonirmolo:

  • Eksplorasi relasi masyarakat dengan urbanisasi dan perubahan ruang hidup
  • Program seni lintas disiplin yang merespons dinamika desa-kota

3. Bangunjiwo:

  • Eksplorasi warisan kriya lokal seperti, topeng tradisional, batik tulis, wayang
  • Kolaborasi antara perajin lokal dan seniman kontemporer

Setiap desa akan menjadi panggung seni yang hidup, menyajikan berbagai bentuk karya mulai dari seni pertunjukan, instalasi, hingga praktik partisipatif yang melibatkan komunitas.

Informasi selengkapnya melalui:

Instagram: @biennalejogja

Website: biennalejogja.org/

Penyelenggara: Yayasan Biennale Yogyakarta