HAIJOGJA.COM – Produksi beras Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2026 diperkirakan mencapai 329.020 ton, meningkat 5,79% dibandingkan produksi 2025 sebesar 311.000 ton. Kenaikan ini sejalan dengan bertambahnya luas panen dan produksi padi di sejumlah wilayah.

Berdasarkan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, luas panen dan produksi padi sepanjang 2026 tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya. Data tersebut mencakup realisasi panen hingga September dan perkiraan potensi panen pada kuartal terakhir.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Provinsi DIY Endang Tri Wahyuningsih mengatakan luas panen padi pada Januari–September 2026 mencapai 99.350 hektare, naik sekitar 2,48% dibandingkan periode yang sama pada 2025. BPS memperkirakan potensi luas panen pada Oktober–Desember mencapai 10.540 hektare.

Dengan tambahan itu, luas panen sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 109.890 hektare, meningkat 2,49% dari 107.220 hektare pada 2025. “Puncak panen padi pada tahun 2026 tercatat terjadi pada bulan Februari dengan luas panen mencapai 27,44 ribu hektare,” kata Endang dalam rilis bulanan beberapa hari lalu.

Produksi Gabah Kering Panen (GKP) pada Januari–September 2026 tercatat 645.460 ton, naik 5,90%. BPS memperkirakan produksi GKP pada Oktober–Desember bertambah 70,81 ribu ton. “Dengan potensi kuartal keempat sebesar 70,81 ribu ton GKP, total produksi GKP 2026 diproyeksikan meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, produksi Gabah Kering Giling (GKG) selama Januari–September mencapai 521.960 ton, atau naik 5,90% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi GKG pada Oktober–Desember diperkirakan mencapai 57.260 ton, sehingga total produksi GKG DIY pada 2026 diproyeksikan sebesar 579.230 ton, meningkat 5,79% dari 2025.

“ Kabupaten Gunungkidul mencatatkan total produksi GKG tertinggi pada 2026,” paparnya.

Hasil konversi produksi padi pada Januari–September 2026 setara dengan 296.490 ton beras. BPS memperkirakan potensi produksi pada kuartal keempat menambah 32.530 ton, sehingga total produksi beras DIY tahun ini diproyeksikan mencapai 329.020 ton.

Endang mengatakan peningkatan produksi didukung pertumbuhan hasil pertanian di sejumlah kabupaten, yakni Bantul, Sleman, dan Kulonprogo. “Peningkatan produksi yang cukup besar pada tahun ini didorong oleh pertumbuhan di beberapa wilayah seperti Bantul, Sleman, dan Kulonprogo yang memperkuat ketahanan pangan di wilayah DIY,” ujarnya.

Di sisi lain, Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah Jogja telah melampaui target pengadaan gabah 2026. Hingga 6 Oktober 2026, serapan gabah Bulog Kanwil Jogja mencapai 212.000 ton setara beras, atau 108,71% dari target 195.000 ton.

Capaian itu mencakup serapan Bulog Kantor Cabang Magelang dan Banyumas yang berada di bawah Bulog Kanwil Jogja. Khusus wilayah Jogja, serapan hingga tanggal yang sama mencapai 84.513 ton setara beras, atau 127,86% dari target 66.100 ton.

Pemimpin Perum Bulog Kanwil Jogja Dedi Aprilyadi mengatakan gabah yang dibeli dari petani dihargai Rp6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP). “Hingga saat ini masih menjalankan penugasan serapan gabah baik dari petani atau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sampai penugasan berakhir atau akhir tahun,” katanya.

Data produksi untuk Oktober–Desember masih berupa estimasi BPS. Sementara itu, angka serapan Bulog dalam laporan tersebut merupakan realisasi hingga 6 Oktober 2026.