HAIJOGJA.COM – Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM menginisiasi Proyek Scaling Health Interventions for Effective Long-term Dengue Control (SHIELD) untuk memperluas penerapan teknologi Wolbachia. Langkah ini didorong hasil penelitian di Jogja yang mencatat penurunan kejadian dengue hingga 77 persen dan angka rawat inap sebesar 86 persen.

SHIELD dirancang untuk memperkuat penerapan Wolbachia sekaligus mengkaji faktor yang memengaruhi keberhasilan dan keberlanjutannya di berbagai wilayah. Proyek tersebut juga akan menghimpun pembelajaran dari penerapan teknologi ini di lima kota sebagai dasar penyusunan strategi perluasan di tingkat nasional maupun global.

Dalam pertemuan kick-off meeting SHIELD, Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa, dan Tanaman Beracun Kemenkes RI, dr. Fadjar Surya M. Silalahi, memaparkan hasil penerapan Wolbachia di Jogja dan Semarang. Di Jogja, penurunan kasus dengue tercatat seiring dengan proporsi nyamuk ber-Wolbachia yang stabil di atas 60 persen.

“Tren penurunan kasus dengue tercatat seiring dengan stabilnya proporsi nyamuk ber-Wolbachia di atas 60%,” kata Fadjar dalam keterangan tertulis pada Selasa (3/11/2026).

Pengembangan strategi pengendalian dengue menjadi perhatian di tengah tingginya beban penyakit tersebut di Indonesia. Pada 2025, Indonesia berada di urutan kedua dunia dalam jumlah kematian akibat dengue, dengan 703 kematian atau sekitar 17 persen dari total kematian dengue secara global.

“Tingginya beban dengue di Indonesia menjadi salah satu dasar pelaksanaan implementasi teknologi Wolbachia di lima kota,” ujar Fadjar.

Pendamping Peneliti Utama SHIELD, Katie Anders dari Monash University, mengatakan dampak Wolbachia dalam menekan penularan dengue di Jogja masih bertahan hingga tujuh tahun setelah nyamuk ber-Wolbachia dilepaskan. Pemantauan pada 2023–2024 menunjukkan proporsi Wolbachia di populasi nyamuk Aedes aegypti mencapai 89 persen.

“Ini didukung oleh hasil pemantauan pada 2023–2024 yang menunjukkan bahwa proporsi Wolbachia dalam populasi nyamuk Aedes aegypti mencapai 89 persen,” papar Katie.

Ia menyebutkan, dalam lima tahun setelah penerapan Wolbachia secara menyeluruh di Kota Jogja, kejadian dengue tercatat 76 persen lebih rendah dibandingkan kota-kota lain di Pulau Jawa yang tidak menerapkan intervensi serupa. Namun, teknologi ini tidak menghapus sepenuhnya risiko penularan dengue dan tetap perlu dipadukan dengan upaya pencegahan serta pengendalian lainnya.

“Oleh karena itu, penerapannya tetap perlu menjadi bagian dari strategi pengendalian dengue yang terpadu, bersama dengan upaya pencegahan dan pengendalian lainnya,” tandasnya.

Ketua Peneliti SHIELD sekaligus Peneliti PKT UGM, dr. Citra Indriani, mengatakan proyek tersebut merupakan kelanjutan dari pengembangan teknologi Wolbachia di Indonesia.

“Melalui SHIELD, kami ingin mengambil pembelajaran dari implementasi di lima kota sebagai dasar untuk menyusun strategi perluasan Wolbachia, baik di tingkat nasional maupun global,” ujarnya.

SHIELD dijalankan melalui empat kelompok kerja, yakni Riset Implementasi, Entomologi, Epidemiologi, dan Pemodelan. Riset Implementasi mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat serta komponen penting dalam penerapan Wolbachia. Kelompok Entomologi mengkaji faktor yang memengaruhi keberhasilan dan keberlanjutan Wolbachia dalam populasi nyamuk, termasuk ketahanan intervensi terhadap panas ekstrem.

Kelompok Epidemiologi mengevaluasi dampak penerapan Wolbachia melalui program pengendalian dengue terhadap penularan penyakit dan kesehatan masyarakat di wilayah dengan karakteristik berbeda. Sementara itu, kelompok Pemodelan menganalisis manfaat-biaya dan menyusun berbagai skenario untuk mengintegrasikan Wolbachia dengan strategi pengendalian lain, termasuk vaksinasi.

Analisis tersebut diharapkan dapat memaksimalkan manfaat bagi kesehatan masyarakat dan mendukung pengambilan kebijakan. Melalui kolaborasi lintas bidang, SHIELD juga ditujukan untuk memperkuat bukti ilmiah serta mendukung perencanaan dan kebijakan perluasan Wolbachia.

“Semoga proyek ini menghasilkan luaran yang bisa kita gunakan untuk penguatan kebijakan perluasan Wolbachia di Indonesia,” tegas Citra.