IAGI Bahas Pengelolaan Sumber Daya Geologi dan Mitigasi Bencana di Yogyakarta
HAIJOGJA.COM – Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menggelar Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-55 bersamaan dengan GEOSEA XIX Convention & Exhibition 2026 di Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, pada 2-5 November 2026. Forum ini membahas pengelolaan sumber daya mineral, mitigasi bencana, dan pelestarian warisan geologi.
Asia Tenggara, terutama Indonesia, memiliki posisi strategis sekaligus rentan karena berada di jalur tektonik aktif. Kondisi tersebut memberikan kekayaan sumber daya mineral dan energi, tetapi juga meningkatkan risiko bencana geologi.
Pertemuan ilmiah berskala regional itu diikuti sekitar 900 peserta dan menghadirkan pembahasan 190 makalah ilmiah. IAGI menyatakan forum tersebut menjadi ruang untuk membicarakan pengelolaan sumber daya, mitigasi bencana, serta pelestarian warisan geologi.
Ketua Umum Pengurus Pusat IAGI, STJ Budi Santoso, menekankan perlunya pengelolaan bumi yang seimbang agar kekayaan alam tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat.
“Tantangan ini memunculkan pertanyaan mendasar. Bagaimana kita dapat memanfaatkan sumber daya bumi secara bertanggung jawab, mengurangi risiko geologi, dan melestarikan warisan geologi kita sekaligus memastikan pembangunan yang berkelanjutan?” kata Budi dalam sambutannya, Selasa (2/11/2026).
IAGI menyatakan komitmennya untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dan kebijakan publik, memperkuat kapasitas riset, serta mendorong kerja sama antarnegara di Asia Tenggara. Forum tersebut juga diharapkan menghasilkan aksi nyata dan rekomendasi strategis untuk menghadapi transisi energi global dan perubahan iklim.
“Jadi kita tidak hanya bertemu merumuskan hal-hal yang scientifically, itu bagus, tetapi juga sesuatu yang kita bisa terapkan. Ada risiko geologi juga ada di sana. Pada saat ini kita sedang berpikir alam harus diselamatkan, tapi pada saat yang sama kita bisa tetap mendapatkan manfaatnya,” tandasnya.
Dari sisi ketahanan energi nasional, ilmu geosains dinilai berperan penting dalam mendukung swasembada energi dan transisi menuju emisi rendah. Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, mengatakan eksplorasi migas di Indonesia masih menunjukkan potensi besar, terutama sumber daya gas bumi di sejumlah cekungan baru.
“Penemuan tersebut memberikan optimisme mengenai besarnya potensi geologi Indonesia. Sekaligus mengingatkan kita bahwa kegiatan eksplorasi tetap memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional, termasuk di tengah transisi energi,” ungkap Rikky.
SKK Migas mendorong strategi balanced exploration dan pemanfaatan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan dalam eksplorasi, untuk mengurangi ketidakpastian kondisi bawah permukaan. Meski demikian, keselamatan operasional dan pemetaan risiko geologi tetap harus menjadi prioritas dalam kegiatan eksplorasi dan produksi migas untuk mencegah gangguan akibat bencana alam.
Pemerintah melalui Badan Geologi Kementerian ESDM juga menyoroti perlunya data dasar geologi yang akurat sebagai landasan pengambilan keputusan investasi dan penyusunan tata ruang. Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan bahwa pengelolaan mineral kritis dan sumber daya energi perlu berjalan beriringan dengan mitigasi bencana yang terpadu.

Tinggalkan Balasan