105 Warga Diduga Keracunan MBG di Kulonprogo, Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Ikut Terdampak
Jumlah korban dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus bertambah. Hingga Rabu (22/7/2026), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo mencatat sebanyak 105 orang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni.
Korban tidak hanya berasal dari kalangan pelajar, tetapi juga mencakup kelompok rentan. Berdasarkan hasil surveilans terhadap 786 penerima manfaat MBG, sebanyak 98 korban merupakan siswa, empat orang tenaga pendidik dan kependidikan, satu ibu hamil, serta dua ibu menyusui.
Kepala Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih, mengatakan tingkat serangan (attack rate) dalam kasus ini mencapai sekitar 13,5 persen.
“SPPG ini melayani kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak sekolah. Karena itu dampaknya tidak hanya muncul di sekolah, tetapi juga sampai ke masyarakat yang menerima layanan melalui posyandu,” ujar Susilaningsih di Wates, Rabu (22/7/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar korban mengalami gejala ringan. Meski demikian, kondisi ibu hamil masih terus dipantau untuk memastikan tidak terjadi komplikasi akibat keluhan yang dialami.
“Dari laporan yang masuk, gejalanya tidak berat. Untuk ibu hamil juga masih kami dalami usia kehamilannya. Semoga jika nyeri perut yang dialami tidak berlebihan dan usia kehamilan sudah memasuki trimester kedua, tidak memicu kontraksi,” katanya.
Nyeri Perut dan Diare Dominasi Keluhan
Hasil analisis epidemiologi menunjukkan nyeri perut menjadi gejala yang paling banyak dikeluhkan, dengan persentase mencapai 78 persen. Sementara diare dialami sekitar 69 persen korban, disusul pusing dan mual yang masing-masing dialami sekitar 40 persen.
Dinkes juga mencatat masa inkubasi rata-rata gejala muncul sekitar 14 jam 15 menit setelah makanan dikonsumsi. Gejala paling cepat muncul dalam waktu empat jam, sedangkan yang terlama mencapai 32 jam 45 menit.
Dapur MBG Jadi Fokus Investigasi
Seiring bertambahnya jumlah korban, Dinkes Kulonprogo melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk menelusuri sumber dugaan kontaminasi. Pemeriksaan difokuskan pada dapur SPPG Karangwuni yang memasok menu ayam saus barbeque, tahu goreng bawang, dan cah pakcoy.
Dari investigasi awal, petugas menemukan sejumlah temuan yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi pangan. Salah satunya berdasarkan rekaman CCTV yang memperlihatkan penjamah makanan tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar selama proses pengolahan.
Selain itu, ditemukan pula adanya jeda waktu cukup panjang dalam penanganan bahan baku ayam. Sebanyak 249 kilogram ayam diterima pada Minggu (19/7/2026) pukul 18.45–20.00 WIB, sementara proses memasak baru dimulai sekitar pukul 02.00 WIB dan berlangsung selama 45 menit dalam empat kloter. Makanan kemudian didistribusikan dan dikonsumsi penerima manfaat pada pukul 08.00–10.00 WIB.
Menurut Dinkes, rentang waktu tersebut menjadi salah satu titik kritis yang berpotensi memengaruhi keamanan pangan, terlebih tidak ditemukan pelabelan waktu penyimpanan maupun informasi masa kedaluwarsa makanan.
Sampel Makanan Terbatas
Investigasi juga terkendala minimnya sampel makanan yang tersedia. Padahal, penyedia layanan diwajibkan menyimpan minimal satu porsi utuh makanan di dalam freezer sebagai sampel pembanding apabila terjadi dugaan keracunan atau kejadian luar biasa.
“Sampel yang tersedia sangat sedikit. Meski demikian, sampel tetap kami kirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan dan saat ini masih menunggu hasil resmi,” ujar Susilaningsih.
Operasional SPPG Dihentikan Sementara
Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Sleman, Harsono Budi Waluyo, mengatakan operasional SPPG Karangwuni telah dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan hingga seluruh proses investigasi selesai.
Menurut Harsono, penghentian operasional merupakan prosedur standar ketika muncul dugaan kasus yang berkaitan dengan keamanan pangan.
“Kami menyampaikan keprihatinan atas adanya dugaan kejadian tersebut. Operasional SPPG dihentikan sementara sebagai langkah preventif sambil menunggu hasil investigasi,” ujarnya.
Saat ini KPPG Sleman bersama Badan Gizi Nasional masih berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Puskesmas, rumah sakit, Balai POM, pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait. Koordinasi tersebut meliputi pendampingan terhadap korban, pengujian sampel makanan, bahan baku dan air, pemeriksaan proses produksi serta distribusi makanan, hingga evaluasi menyeluruh terhadap penerapan higiene sanitasi dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur sebelum layanan kembali beroperasi.
Sebaran Korban
Kasus dugaan keracunan tersebar di sejumlah lokasi. SMP Negeri 3 Wates menjadi lokasi dengan korban terbanyak, yakni 98 siswa. Selain itu, terdapat dua siswa dan dua tenaga pendidik di SD Negeri Darat, satu tenaga pendidik di SD Negeri Sogan, serta satu siswa di MI Ma’arif.
Sementara pada kelompok masyarakat, kasus tercatat di Posyandu Anggrek Karanganyar dan Posyandu Marsudisiwi Kebon Karangwuni, yang melibatkan dua ibu menyusui dan satu ibu hamil.
Dinkes Kulonprogo memastikan sebagian besar korban mengalami gejala ringan dan dapat segera pulih setelah mendapatkan penanganan medis. Sementara penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah dikirim untuk diuji.
